Penat Jadi Penulis, Penat Miskin!

Pasca hiatus beberapa minggu dari media sosial Facebook, saya kembali membuka si biru, yang kemudian disambut sesuatu yang tidak menyenangkan untuk saya. Berhubungan dengan menulis, erat sekali. Sesuatu yang membuat perasaan sesak lahir batin, terkhusus buat penulis pemula seperti saya.

Ketika itu, saya membaca sebuah status di grup Facebook tentang lomba menulis. Status tersebut menawarkan jasa. Bukan jasa edit sampul buku, bukan jasa edit tulisan typo, melainkan jasa menulis novel.

Belum merasa aneh? Masih sangat bingung? Oke, lanjut!

Jasa menulis novel yang ditawarkan, bukan sembarangan. Sang penawar menjual tulisan novelnya secara utuh. Benar-benar utuh. Artinya, semua isi dalam novel akan sepenuhnya dimiliki pembeli, termasuk hak cipta. Maka, ketika novel tersebut tak disangka booming, bahkan mungkin bisa masuk layar lebar, penulis asli tidak bisa mengklaim sama sekali. Ia tidak bisa mengakui karyanya sendiri.

Bagi saya, sebagai penulis blog awam dan bermimpi ingin mencetak nama sendiri di sampul buku, kejadian itu membuat saya sesak ketika membacanya. Bagaimana mungkin, ada seseorang yang rela menjual karya besarnya tanpa sedikitpun memiliki empati terhadap karya sendiri?

penat jadi penulis

Apalagi harga yang dibanderol hanya sekitar satu juta rupiah. Terlalu sedikit, untuk jerih payah yang pasti berat.

Okelah, kalau hanya sekadar jasa menulis artikel beberapa ribu kata. Masih bisa ditoleransi—asal tetap tercantum nama penulis. Tapi ini novel, Pak, Bu! Novel! Salah satu pencapaian terbesar untuk seorang penulis.

Dalam status itu bahkan ada beberapa komentar yang sadar dengan kekeliruannya. Mereka rata-rata memberi solusi, agar novel berharga sang penulis dikirim ke penerbit saja. Baik penerbit indie ataupun mayor. Namun sepertinya ia tidak tertarik, seolah sudah tahu prosesnya bakal lama untuk mendapat uang yang diinginkannya.

Jasa lain yang tak kalah membuat saya mengerutkan kulit dada, di grup yang masih sama, ialah jasa menulis cerpen atau puisi untuk sebuah lomba. Jasa yang secara tidak langsung menyuruh orang curang.

Ketika kamu sangat antusias membuat sebuah tulisan tematik yang menarik untuk dilombakan (seperti yang saya lakukan ini, untuk 1minggu1cerita), mengetik sampai jari lentik memekik, bahkan begadang semalaman, di luar sana ada orang yang asyik menonton film di Disney+, yang tiba-tiba saja mengirim "karyanya" ke lomba yang sama. Kamu nyesek gak? Nyesek dong, pasti.

Saya tahu bahwa kesempatan memenankan lombanya juga sama. Bisa saja menang, bisa juga kalah. Tapi ini soal etika berkompetisi, yang harusnya tidak ada sedikitpun kecurangan. Lagipula akan sulit rasanya jika menguak kecurangan tersebut. Kecuali jika sang cheater jujur membeli tulisan, atau penawar jasa biadab mengakui kesalahannya.

Sudah sepenat itukah jadi penulis di era ini?

Dari dua contoh kasus di atas, pertanyaan besar terbersit, "sudah sepenat itukah jadi penulis di era ini?"

Saya tahu, zaman sekarang tulisan sudah semakin berkembang dan kembali memiliki banyak penggemar. Saya tahu bahwa persaingan juga semakin ketat. Tapi sialnya saya baru tahu, calon-calon penulis muda era ini, mudah sekali penat dengan usaha dan karyanya sendiri.

Penat mengirim tulisan ke penerbit, menunggu dua hingga tiga bulan, hanya untuk menerima surat yang rata-rata berisikan, "maaf, naskahmu belum bisa diterbitkan."

Penat menulis tiap malam, demi mengikuti sebuah lomba. Membayangkan kemenangan, piala, dan cuan di tangan. Namun kenyataannya, kamu tidak mendapatkan apapun. Tulisanmu seolah dilewat begitu saja, tanpa sedikit apresiasi. Kamu juga bingung mau dibawa ke mana lagi tulisan itu setelah mengalami kegagalan.

Pada akhirnya, si penulis yang berambisi mencetak tulisannya jadi buku ber-ISBN, lebih memilih menjualnya saja. Bahkan tanpa hak cipta. Si penulis yang hanya berambisi memenangkan piala dan cuan yang lebih besar, malah memutuskan melakukan kecurangan. Membeli, tanpa effort sama sekali. Pada akhirnya banyak sekali penulis yang malah menawarkan jasa ghostwriter, dibanding mewujudkan mimpi sebagai penulis besar.

Apakah cuma penat miskin?
Dari dua kasus di atas, saya kembali memiliki opsi pertanyaan lain, "apakah cuma penat miskin?" Sebab, keduanya memiliki tujuan yang sama pada akhirnya. Ingin mendapatkan uang.

Menjadi kaya, setidaknya mendapat uang cukup lumayan, memang mimpi realistis kebanyakan orang. Menjadi kaya juga perlu membutuhkan usaha. Tapi, bukan begitu caranya. Bukan berpeluh keringat siang sampai malam menulis novel kemudian menjualnya tanpa hak cipta, bukan pula memamerkan kemenangan atas lomba yang diikuti padahal itu bukan tulisannya.

Dek, Nak! Saya saja yang sejak masuk madrasah tanawiyyah, terus menerus membuat puluhan blog hingga saat ini, masih betah berjuang. Walaupun ya... rata-rata berakhir gagal. Saya saja yang dulu naik turun tanjakan bertanah basah untuk pergi ke warnet, masih bisa menghargai tulisan saya sendiri. Masa kamu yang sudah masuk era modern, jadi mudah penat begitu? Ayolah...

Baiklah, maaf, malah adu nasib!

Saya hanya ingin menegaskan sekaligus mengingatkan saja, karya tulismu sama berharganya dengan dirimu. Ia simbol serta bukti bahwa kamu masih layak berjuang mengejar ambisi. Tanpa kecurangan, tanpa menjual segampang itu.

Jangan terlalu bersikap realistis, usahakan memiliki sedikit rasa idealis. Sebab sekali lagi, karyamu sama berharganya dengan dirimu. Rawatlah amanah Tuhan yang sedikit orang punya.

Uang bisa didapatkan dengan cara lain melalui tulisan, tanpa menginjak harga dirimu. Masih begitu banyak opsi yang bisa kamu pilih. Aplikasi-aplikasi menulis dan website yang menghasilkan uang bertebaran di internet. Kamu hanya butuh sedikit lagi berusaha, perbanyak sabar pula.

Tapi, apapun pendapat yang saya buat pada tulisan ini, akan berakhir pada keputusanmu. Saya hanya berusaha memberimu rasa hormat, atas segala kerja kerasmu. Pandai-pandailah berpikir idealis juga.

Maka, tetaplah berjuang para penulis muda! Jangan terlalu sering merasa penat, potensimu masih sangat-sangat kuat. Kembalilah menulis, dan tetaplah semangat!

Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

Lebih baru Lebih lama