Ngomongin Hari Puisi Sedunia, dan Puisi-puisi Favorit Saya

hari puisi sedunia

Pagi ini saya dikejutkan dengan beberapa postingan di Instagram, yang mengunggah foto ucapan hari puisi sedunia. Jujur saja saya terkejut, "oh, ternyata ada juga hari spesialnya?!"

Sebagai penyuka karya puisi dari manapun dan dari siapapun, saya merasa kecolongan. Lah, sejak pertama kali membaca puisi "AKU" karya Chairil Anwar pas masih di Madrasah Ibtidaiyyah, tidak pernah ada yang memberi tahu bahwa puisi juga hari spesialnya, bahkan bagi seluruh warga dunia. Jadi, mari kita ngomongin hari puisi sedunia, mumpung masih waktunya.

Ngomongin hari puisi sedunia

Hari puisi sedunia ditetapkan pada tanggal 21 Maret 1999, oleh UNESCO. Itu artinya saya terlambat sekitar 22 tahun untuk tahu hal yang menarik ini. Proklamasi tersebut disahkan di Paris, tempat terindah dan sepertinya paling sering muncul di buku-buku novel maupun buku lainnya.

Dilansir dari situs un.org, hari puisi sedunia ini dimaksudkan sebagai promosi, pengajaran, dukungan kepada para penerbit kecil, serta mewujudkan citra puisi yang menarik di media. Sehingga karya puisi akan tetap bisa terus bertahan lama dan tidak ketinggalan zaman. Bukan hanya itu, hari puisi sedunia ini juga sebagai penghormatan tinggi bagi para penyair beserta karya-karya puisinya. Begitu kira-kira yang bisa saya pahami saat membacanya. Koreksi saja kalau salah, bahasa Inggris saya sering remedial soalnya.

Puisi-puisi favorit saya

Ngomongin hari puisi sedunia, alangkah bagusnya kalau saya sekalian berbagi beberapa puisi favorit saya. Yang pernah saya baca tentunya. Meski saya mengaku menyukai membaca puisi, namun itu bukan berarti saya sangat tahu banyak tentang karya-karya puisi. Daftar-daftar favorit saya ini, mungkin terlalu receh buat beberapa orang. Namun bagi saya, puisi di bawah ini jadi alasan saya suka dengan puisi.

1. Malam Lebaran karya Sitor Situmorang

Alasan saya suka dengan puisi ini, karena dia berbeda dari yang lain. Ketika banyak penyair mengungkapkan seluruh kalimatnya dalam satu puisi, Pak SitorSi hanya butuh satu kalimat untuk menggambarkan segala perasaannya. Puisi Malam Lebaran hanya berisi kalimat, "Bulan di atas kuburan." Cuma itu saja.

Namun di balik satu kalimat itu, menurut dosen saya yang pernah membahasnya, memiliki tafsir yang rumit. Bahkan beliau pun harus menulis maknanya pada beberapa puluh lembar kertas.

Menurut saya sendiri, puisi ini memang sangat mendalam. Seperti terdapat ikatan kuat antara judul dengan isi puisinya. Jika boleh disederhanakan, bagi saya puisi Malam Lebaran memiliki makna terang dalam ruang gelap. Maksudnya, seluruh ibadah yang kita lakukan di dunia ini, tak mungkin akan terlewati Sang Maha Penguasa. Begitu kira-kira.

Saya juga sempat bikin puisi sejenis ini, meski tidak sekeren Malam Lebaran, sih. Kamu bisa membacanya di sini: Puisi-puisi 'Turut Berduka Cita'

2. Megatruh karya W.S. Rendra

Pertama kali berkenalan dengan puisi ini, saat saya sedang menyaksikan pentas apresiasi sastra teman satu kelas saya. Kala itu, puisi Megatruh dipentaskan dalam sebuah seni rampak puisi. Serius, saya terkesima ketika teman-teman saya mendalami makna puisinya. Merinding pokoknya!

Mau menonton rampak puisi Megatruh? Oke, silakan! Semoga kamu juga ikut merinding.


3. Shang hai karya Sutardji Calzoum Bachri

Puisi yang suka saya sebut, "puisi main ping-pong" ini jadi favorit ketiga buat saya. Menurut saya, antara main ping-pong dengan puisi Shang hai memiliki hubungan makna yang mirip-mirip. Saling melempar omongan, saling mau sendiri, saling merasa mereka bisa menang dengan caranya. Begitulah makna sederhana puisi ini versi saya. Bagaimana versimu? Komentar saja di bawah.

4. Kucing karya karya Sutardji Calzoum Bachri

Memang ya, Pak SCB ini memiliki gaya berpuisi dengan diksi-diksi yang nyentrik. Kalau pun tidak, kalimat-kalimatnya tetap masih bisa memusingkan para penyuka puisi awam, seperti saya. Sama hal dengan puisi ini, ketika saya membacanya saya keteteran memahaminya. Padahal waktu itu saya wajib tahu tafsirnya, sebab puisi Kucing merupakan puisi pilihan tim pentas apresiasi sastra saya.

Namun untungnya pelatih saya, sedikit memberikan bocoran mengenai "Tuhan" dan kucing yang ada di dalam puisi ini. Saya kira maknanya bisa secara tidak langsung memurtadkan saya, tapi nyatanya tidak. Ini adalah murni sebuah gambaran keserakahan umat manusia dalam menjalani hidupnya.

Mau menonton juga pentas tim saya? Ya sudah, bolehlah. Sssst... Saya yang memakai jubah berkerudung. Si pemilik tongkat sakti. 😅


5. PERINGATAN karya Wiji Thukul

Tegas, lugas, jelas, dan on point. Begitulah puisi  Peringatan ini. Puisi ini memang jadi salah satu puisi yang mudah apabila mau dipahami. Namun, susunan-susunan kalimatnya sangat cerdas dan mengena sampai ke dasar jiwa. Seakan suara rakyat berdesir memaksa ketidakadilan turun dari kepemimpinan.

Puisi Lainnya:

● Negeri Gagap karya Bambang Widiatmoko
● Sia-sia karya Chairil Anwar
● Dalam Diriku karya Sapardi Djoko Damono
● Mari Tak Menghafal Pancasila karya Sujiwo Tejo

Terbilang sedikit kan? Meski begitu, dari karya-karya itulah saya semakin menyukai puisi dan tafsir-tafsir tersembunyinya. Bagaimana denganmu? Apa puisi favoritmu? Ngomong-ngomong, sekali lagi, selamat hari puisi sedunia. Semoga banyak penyair baru Indonesia, yang bisa menggebrak pasaran dengan puisi indahnya. Bisa jadi, kamulah orangnya!

Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

Lebih baru Lebih lama