Mayoritas, Minoritas


Apa yang membuatmu tertarik membaca tulisan ini, selain hanya sekedar berkunjung? Mungkin karena judul tulisannya. Lantas kalau begitu, apa yang membuatmu tertarik, penasaran, pasca membaca judul tulisan ini? Apa yang pertama kali kamu pikirkan, tentang mayoritas atau minoritas?

Agama?

Apakah yang muncul dari otakmu, ialah tentang perbedaan agama? Kenapa bisa? Ada apa dengan perbedaan soal ini? Islam, apa pendapatmu tentang Kristen, Hindu, Budha, Konghucu? Apakah mereka berhak beribadah? Kalian yang minoritas, bagaimana juga menurutmu tentang Islam? Apakah mereka sudah bersikap menerima perbedaan dari diri kalian? Atau, terlihat hanya sekedar "toleran" tanpa keyakinan?

Isu ini, setidaknya untuk saat ini, sedang sangat naik-naiknya diperbincangkan. Di dunia nyata, terlebih lagi maya. Buka sosial media, isinya tentang perbedaan agama. Mayoritas menindas minoritas, minoritas menyalahkan mayoritas. Begitu terus, tak bisa berhenti. Ada yang berusaha menengahi, malah banyak yang tidak peduli. Maunya menang sendiri, katanya, "ini soal harga diri."

Flashback ke beberapa bulan sampai beberapa tahun lalu. Tentu masih ingat betapa buruknya perasaan kaum mayoritas, tatkala Bali jadi lautan darah akibat bom bunuh diri. Sebab yang melakukannya mengatasnamakan "jihad", maka Islam terguncang. Kaum minoritas mencecar habis Islam. Islam hanya banyak diam, sebab mereka juga sama terkejutnya. Tak menyangka.

Kemudian tragedi penembakan di masjid kota Christchurch, Selandia Baru, masih ingat juga? Ya, puluhan orang yang sedang khidmat beribadah, meninggal setelah dibombardir peluru satu lelaki tanpa berdosa. Maka giliran mayoritas yang mencela, "Mengapa begitu tega?"

Dua tragedi itu hanya sebagian contoh kecil, betapa buruknya perbedaan, jika takada kata toleransi sama sekali. Sebab, ada yang lebih besar dari itu, menurut saya. Saya tidak bisa menceritakannya, terlalu berbahaya.

Ras?

Kalau kita mendengar kata hitam, terkait isu ini, kita pasti langsung tahu ke mana arahnya. Rasisme. Ras berkulit ini memang sudah jadi langganan korban rasisme orang tak punya akal sehat. Entah di lingkungan yang luas, maupun di ruang sempit (sshhtt...tongkrongan). Mereka paling sering jadi korban. Tentu kita juga langsung tahu siapa yang jadi pelaku utamanya. Ya, betul sekali.

Di negeri kita sendiri, korban yang paling sering disebut adalah kaum keturunan Cina. Sering saya mendengar di banyak tongkrongan, ketika sudah membahas soal Cina, bawaannya seperti membenci dan kesal sendiri. Saya tidak begitu tahu kenapa dan darimana mulanya, tapi akui saja bahwa rasisme terhadap kaum minoritas ini masih ada di lingkungan kita.

Suku?

Perselisihan kaum mayoritas dan minoritas juga bisa mengguncang antar suku. Perbedaan yang muncul oleh sebab,—mungkin—keterasingan. Asing melihat adat yang jauh berbeda, bahkan bersinggungan. Merasa aneh, merasa tidak benar. Kalau sudah saling sikut, perbedaan suku ini bisa menimbulkan konflik besar. Taruhannya ya jelas perpecahan antar suku hingga mengancam keutuhan negara. Dan kamu juga tentu tahu, siapa yang sering jadi korban perbedaan ini.

"Halo, Papua, apakah kamu masih baik-baik saja? Saya harap begitu. Jangan pulang jadi orang asing, tetaplah jadi saudara satu Pancasila."

Sifat, Sikap, Perilaku?

Jika kamu memikirkan soal ini, ketika mendengar kata mayoritas dan minoritas, artinya kamu sedang berpikir lebih sederhana. Perbedaan sifat, sikap, maupun perilaku juga sering kali jadi senjata untuk saling menghina. Mencabik-cabik isi hati minoritas sampai tak berbekas. Menaruh dendam pada mayoritas, sampai berniat melakukan sesuatu yang tidak waras.

Orang Ekstrover, dengan jutaan kata yang tertabung dalam isi pikiran, mudah sekali mengernyitkan dahi pada orang introver. Mungkin iya yakin sok tahu, kaum introver tak berdaya membalas. Iya juga sempat sesekali berpikir, introver artinya sama dengan ketidakmampuan melakukan apa-apa.

Padahal introver diam-diam sedang menjamahi segala tingkah lakunya sampai detail. Menaruhnya ke dalam kotak "orang beromong kosong" atau "masih bisa didaur ulang." Introver akan menjauhi omong kosong, mendekati orang yang masih sedikit punya keterbukaan. Ingat, menjauhi karena benci, juga salah satu sifat kurang baik.

Sekali lagi, itu hanya satu contoh kecil soal perbedaan yang memuakkan. Banyak contoh lain yang tidak kita sadari, kitalah yang sedang melakukannya. Orang 'alim lawan lalai, santri lawan sarjana, preman lawan ustaz, anak lawan orang tua, pintar lawan bodoh, juara lawan pecundang, guru lawan murid, kaya lawan miskin, open minded lawan close minded, dan masih banyak contoh lainnya. Kaum mayoritas sering kali selalu menang, karena kemayoritasannya itu sendiri. Siapapun yang berbeda, maka artinya SALAH. Minoritas kadang juga tidak mau terlalu lama diinjak. Maka, saling sikutlah kita.

Mau Sampai Kapan?

Saya sadar kisruh perbedaan antara kaum mayoritas dan minoritas kecil kemungkinan akan berakhir. Pikirkan saja, milyaran orang di bumi ini, masing-masing punya ideologi sendiri, punya formula hidup sendiri, bagaimana mungkin bisa saling menghargai? Keculi, ya tentu jika Tuhanlah yang menghendaki.

Tapi mau sampai kapan kita terus begini? Apa yang sejatinya kamu, kita, dapatkan selain kepuasan nafsu saja? Apa efek besar terhadap diri masing-masing, tatkala membenci perbedaan karena alasan mayor atau minor? Mengapa mayoritas bisa seegois itu? Mengapa minoritas bisa sedendam itu?

Saya juga tahu, akan ada anggapan, tak semuanya begitu. Tapi apakah kita hanya mendiamkan kekisruhan, dan pura-pura tenang dalam label "tak semua begitu?"

Saya juga tidak akan pernah memaksa, untuk kita bisa bersatu dalam perbedaan yang kompleks ini. Karena kembali lagi, mayoritas dan minoritas terlalu luas untuk bisa dipersempit jadi SALING MEMAHAMI.

Saya juga kadang kala jadi pelaku perbedaan itu. Hanya saja saya berharap kita akan tetap baik-baik saja, sebelum akhir dunia tiba. Semoga semuanya tidak berakhir dengan penyesalan lantaran melalaikan perbedaan, antara kaum mayoritas dan kaum minoritas. Semoga suatu saat nanti dunia ini akan benar-benar memahami perbedaan, walau hanya beberapa detik saja. Tak bisa terbayang, betapa indahnya momen itu.

Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

Lebih baru Lebih lama