Zona Nyaman, Zona Apatis

zona nyaman, zona apatis

Sembari mendengarkan lagu zona nyaman dari Fourtwnty, saya jadi mulai paham apa yang sesungguhnya saya inginkan. Zona yang digambarkan banyak orang, "tidak peduli" dunia sosial. Ialah, Zona apatis.

Semenjak pertama kali masuk kampus, saya sedikit terganggu dengan opini salah satu mahasiswa seangkatan yang menyebut bahwa, "tak bicara (melalui alat ucap) sama dengan apatis." Sedikit tersinggung, iya. Tidak setuju, tentu. Mana bisa satu kata yang semestinya multimakna itu, disusutkan menjadi satu makna akibat keegoisan diri sendiri?

Kalau nyatanya banyak yang mendukung argumen itu, maka baiklah, artinya saya sudah sangat nyaman dengan zona yang dianggap apatis ini. Menjadi orang yang tak banyak bicara.

Saya bukan tipe orang yang diam-diam amat, sebetulnya. Saya hanya pemilih, mana yang bisa diajak bicara dan mana yang tidak. Maksud saya, saya akan mulai mengobrol dengan orang yang tak menyinggung fisik dan sikap sebelum saling kenal. Memaksa diri untuk tidak "baperan" artinya memaksa keluar dari jati diri yang sedang dibangun. Saya bukan orang yang banyak gaya dengan lawan bicara.

Buat mereka yang sama sekali tidak mengenal saya, pasti akan memiliki banyak tanya.

"Dingin banget sih, dia!"

"Si Nandar bisa ngobrol ya?"

"Heh, apasih yang dia obrolin kalau lu ajak ngobrol?"

"Yeehh... Saya ini orang, bukan makhluk aneh yang kau bayangkan. Makannya kalau mau kenal, tidak usah banyak gaya, apalagi pas bicara." Begitu jawab saya, dalam hati.

Dulu, saya pikir menjadi "apatis" itu tidak seru sama sekali. Mengobrol dengan diri sendiri setiap hari, bahkan setiap detik, mana asyik. Nongkrong, kumpul bareng, ngopi-ngopi di senja hari, jadi hal asing yang sering saya hindari. Enaknya ya, diam di kelas, di tempat sepi nan sejuk, ngeteh di pagi hari, atau di tempat ramai tapi sama sekali takada yang mengenal. Membuka pintu dunia ciptaan sendiri, berbahagia di alam sana.

Sempat juga terpatri dan merasa khawatir. Zaman sekarang, kalau tak banyak cingcong, sudah dicap sebagai tak punya bakat. Apa itu melukis? Apa itu menulis? Apa itu komikus? Apa itu barista? Dan apa itu lainnya, hanya semacam omong kosong. Katanya. Maka beberapa kali saya mencoba nimbrung, mengobrol. Hasilnya, malah dijadikan bahan komedi tongkrongan tak asyik. Selepas itu ya jelas jadi bahan ghibahan. Pada akhirnya, sudahlah, memaksakan hal yang tak sejalan dengan hasil yang terus-terusan begitu saja, apa gunanya?

Beberapa kali memang terasa sakit, ketika orang yang tidak mau memahami, mengusik saya. Mengganggu pikiran. Pura-pura mau dekat, tapi gerak-geriknya sudah bisa ditebak dia cuma mau "bermain" dengan saya saja. Tapi lambat laun perasaan itu sudah bosan dan dibiasakan. Kuping panas, hati tak ikhlas, sudah sanggup saya libas. 

Alih-alih bisa lancar berbicara, ternyata lebih seru lancar menebak bagaimana cara orang bicara. Mudah saja, padangilah setiap gerak mata, dua bibir, alis, hidung, warna pipi, intonasi saat bicara, dan sebagainya. Jika sudah fasih, kau akan menemukan sebohong apa makhluk sempurna itu. Kita.

Zona "apatis", mulai saat ini (sudah sejak lama sebenarnya), sudah jadi zona ternyaman diri saya. Biar orang yang gamang ingin mengenal saya, banyak bertanya-tanya dan mengghibah. Saya butuh orang-orang absurd dan aneh tapi menerima, bukan bergaya ala-ala dewan, tapi penuh kebohongan.

So, apa zona ternyamanmu saat ini? Apakah zona "apatis" juga semacam saya? Mau cerita sedikit di sini? Komen saja di bawah, pasti saya baca dan pahami. 

5 Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

  1. Kalau zona nyaman saya saat ini, entah bisa disebut juga atau tidak, yg terpenting saya sedang merasa nyaman di dalam zona dimana saya hanya kenal kerabat-kerabat dekat, tau apa yg menarik bagi saya dan tidak—lalu apakah saya perlu membicarakannya atau tidak. Kalau saya merasa nggak bisa klop dengan bahasan tertentu atau dengan orang tertentu, saya nggak akan paksakan diri untuk mengikuti gaya mereka. Dan lebih bodo amat sama orang lain, mungkin karena masalah hidup saya lagi kompleks-kompleksnya, jadi kadang waktunya udah keburu habis mikirin diri sendiri😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, pemikirannya hampir sejalan juga. Terlalu ikut nimbrung sama orang yang terlalu beda jalurnya, buat saya malah capek sendiri.

      Hapus
  2. This my humble opinion ya kak 🙏
    Sudah pasti enggak, karena tetep butuh ngobrol dg manusia selain diri kita. Apalagi wanita butuh penyaluran 20.000 kata perhari. Ngobrol dan membuka diri justru meringankan beban buat saya.. meski yang diobrolin bukan curhat atau ghibahan, cmiiw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, saya sadar akan hal itu juga. Makannya saya bahas di paragraf keempat tulisan ini. Cuma mengobrol sama orang yang mau menerima saya saja. Soalnya beberapa kali saya coba paksa ngobrol sama orang yang maaf, "sok, iye" malah gak bisa nyambung. Mungkin untuk sekarang saya hanya mau ngobrol sama orang yang kenal saya saja.

      Btw, terima kasih sudah beropini.

      Hapus
  3. Kalau aku, sering dibilang, "Kok kamu diam aja? Ngomong dong."
    Selain itu, "Kok kamu jarang senyum? Senyum, dong."

    BalasHapus

Posting Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

Lebih baru Lebih lama