Selamat Pagi, 2021

selamat pagi


Selamat pagi 2021. Mari duduklah di teras yang lumayan dingin ini. Tenang saja, aku sudah menyediakan dua cangkir teh hangat. Iya, maaf, aku tidak begitu suka kopi. Selain tak terbiasa, menyeruput kopi malah membuatku hilang konsentrasi. Manis pahitnya sering kunikmati hanya sekali tegukan.


Bagaimana, lebih enakan teh hangat, kan?


Ngomong-ngomong, rembulan di atas langitmu cukup indah, aku sempat beberapa detik memandanginya. Bentuknya kecil memang, tapi sinar oranyenya sempurna, dibersamai bintik-bintik hitam pada beberapa bagiannya. Apakah Tuhan kita sedang jatuh cinta padamu? Sehingga Ia menhadiahimu langit semenarik itu? Kalau benar, pastilah aku orang pertama yang iri padamu. Karena selama ini, Tuhan masih membenci kebohonganku. Atas segalanya. Ya sudahlah, lupakan saja. Toh aku masih bisa menikmatinya juga. Anggap saja, melaluimu, Tuhan sebenarnya sedang juga mencintaiku.


Sebetulnya, tahun ini sudah kubuat beberapa catatan penting dari beberapa impianku. Dalam sebuah buku nota kecil, yang kusulap jadi diari. Jangan tanya buku itu ada di mana, nanti kuusahakan cari. Kalaupun hilang, catatan pentingnya masih tersimpan jelas di memori pikiranku. Kau tinggal dengar saja.


Seharusnya ya, tahun ini aku sudah memeluk erat notebook legenda milikku. Memetik tiap simbol di papan ketiknya, yang kemudian ia respon menjadi sebuah cerita pendek yang menawan, buatku. Sehabis itu aku memberanikan diri mengirimkannya ke beberapa penerbit buku. Jelas, kubilang "beberapa," sebab aku tahu cerita pendekku masih sama muda usianya sepertimu. Maka seharusnya juga aku sudah siap menelan pahitnya revisi, atau bahkan ditolak berkali-kali.


Sayangnya, saudaramu, pendahulumu, belum mengizinkan ketenangan yang kuharapkan. Beberapa rencana pertengahan tahun sudah gagal, sedang akhir tahun, aku baru bisa merenung sebanyak-banyaknya. Aku tak menyalahkan dirinya, aku hanya menyayangkan ketidaktahuanku saja. Malahan, sore kemarin aku sempat berbicara dengannya, sebelum ia pergi. Tahun itu, sudah banyak memberikanku pelajaran berharga.


Sudahlah, aku tak terlalu tertarik membahas itu lagi. Pagi ini aku menyapa hari pertamamu, sebagai tanda merajuk, dari seorang lelaki hampir dewasa yang masih ambisius dengan mimpi di balik tulisannya. Mewanti-wanti saja, tolong, jangan terlalu seperti pendahulumu. Berilah kesempatan dan harapan yang jauh lebih banyak, supaya catatan di buku kecil itu, bisa disimpan rapi sebagai arsip saja. Kasihan, dia sudah terlalu tua untuk terus dibuka.


Kubayangkan kau sama indahnya seperti rembulan di langit itu. Menghitung setiap detik di tahun ini, sebagai tapak cinta, perjuangan, nikmat, dan rasa syukur. Memang pasti akan selalu ada hambatan, tapi setidaknya, mirip bintik hitam rembulan itu, ia tetaplah indah untuk dihadapi. Tidak dengan rasa sakit, tidak dengan airmata, tapi dengan keberanian memilih satu jalan yang tepat.


Kubayangkan, Aprilmu, atau pahitnya Agustusmu, toga yang aku dan mereka impikan bisa kupasang sebagai mahkota Mak, terutama bapak. Mahkotanya memang tak seindah mereka yang ber-IPK sempurna, bahkan yang terburuk dari angkatanku. Tapi setidaknya Mak dan bapakku jelas bangga, jelas.


Sehabis itu, mudah-mudahan akhir Septembermu membawaku pada naskah yang siap terbit jadi buku, tercetak "Nandar IR" di kavernya. Terlebih, bulan September adalah bulan bersejarah buat blog ini. Ya, satu tahun sudah ia, jika benar-benar bisa bertahan. Aku sangat yakin akan bertahan, bahkan sampai kuberi pada anak-anakku nanti. Wah, terlalu berat ya? Tidak apa, mimpi seluas langit yang kita berdua pandang ini.


Sudahlah, terlalu lama kita mengobrol. Sebagai ungkapan terakhir awal kita menyapa, "bagikanlah keindahan yang Tuhan berikan, kepada manusia-manusia yang sama keras kepalanya denganku. Mereka layak untuk dibahagiakan."


Selamat pagi, calon bahagia.

1 Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

  1. Dwilogi akhir tahun dan awal tahun. Semoga kita baik-baik saja, dan kuat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

Lebih baru Lebih lama