Groningen Mom's Journal, Kisah Ibu Muda yang Masih Punya Cita-cita

groningen mom's journal

Sepanjang sejarah saya membaca buku, Groningen Mom's Journal adalah buku bergaya catatan harian pertama yang saya baca. Betul, kalimat itu bukanlah ungkapan manis buat menyenangkan sang penulis semata. Meski tidak bisa disanggah, bahwa buku ini memang saya dapatkan dari event 1minggu1Cerita (1M1C) yang hadiahnya buku, yang diberi langsung oleh Mbak Monika Oktora (website beliau, bisa kamu kunjungi di monikaoktora.com).


Maka tak berlebihan jika kiranya saya terlebih dahulu mengucapkan beratus ribu terima kasih, kepada 1M1C, terkhusus Mbak Monika Oktora yang sudi membagikan satu bukunya pada anak kampung yang gegayaan punya blog ini. Iya, kalem, saya juga berterima kasih kepada kalian, para member 1M1C, yang bersedia memberikan vote-nya buat tulisan saya yang berjudul: Dari Terpaksa Muncul Rindu yang Tak Biasa. Tanpa kalian, buku ini tidak mungkin saya dapatkan dan saya berikan ulasan.


Kembali lagi ke garis bahasan. Sebenarnya membahas apa sih, buku Groningen Mom's Jurnal ini? Apa plus dan minusnya? Rekomendasi kah, atau tidak? Saya akan membahasnya, tanpa mengurangi keobjektifitasannya.


Mari kita masuk!


Introduksi

Buku yang diberi judul "Groningen Mom's Journal" ini merupakan buku pertama dari seorang ibu muda bernama Monika Oktora. Buku ini diterbitkan oleh salah satu penerbit terkemuka milik Indonesia, Elex Media Komputindo, pada tahun 2017. Groningen Mom's Journal memiliki 248 halaman utama (belum termasuk halaman lain, seperti ulasan singkat dari beberapa tokoh berkaitan, dan daftar isi). Soal harga, pada beberapa toko daring, buku ini memiliki harga sekitar Rp60.000-an saja. Harga yang tentu lebih murah dibanding pizza jumbo dengan toping minimalis, yang hanya habis beberapa puluh menit saja.

Groningen Mom's Journal merupakan buku catatan harian Mbak Monik, tentang kehidupannya menempuh studi S2 di kota kecil bernama Groningen, Belanda. Mulai dari perjalanan menuju kota Groningen, beradaptasi, mengenal budaya dinamis orang Belanda, kuliner,  ke-uwwu-an bersama sang suami, hingga cerita si anak pintar bernama Runa, diceritakan di buku ini.

Groningen Mom's Journal ini, mengajak kita untuk bisa benar-benar mengenal bagaimana rasanya hidup di kota Groningen, meski hanya melalui sebuah buku saja. Spesialnya, pada buku ini, penulis juga bersedia memberikan segala pengalaman mengurus beasiswa, visa, dan lain-lainnya secara detail dan mudah dimengerti. Tentu, suatu kabar baik buat yang kebetulan punya mimpi yang sama. Kuliah di Groningen atau di negeri orang.

Plus (+)


Pada bagian plus ini, saya akan sekaligus memberikan alasan mengapa buku ini sangat direkomendasikan buat dibaca. Sekali lagi, ini bukan karena saya memiliki rasa balas budi, tapi jujur karena kesan pasca membaca buku ini.

Meski pada dasarnya buku ini menceritakan perjalanan Mbak Monik, tapi beliau tidak mau eksis sendiri. Keluarga kecilnya juga dihadirkan sebagai sosok yang paling bisa menguatkan dirinya ketika memutuskan untuk kuliah di negeri Belanda. Terlebih sang suami.

Mas Fajar, suami Mbak Monika, digambarkan jelas sebagai kebalikan dari Mbak Monika sendiri. Beliau jadi penguat dikala Mbak Monika mengeluh, beliau jadi pemberi solusi jika Mbak Monika berada di jalan buntu, beliau juga jadi pemberi tawa jika Mbak Monika berputus asa. Pokoknya, mas Fajar ini, suami yang keren! Hehe. Saya jadi terinspirasi untuk suatu saat nanti bisa se-uwwu Mas Fajar ini.

Sedangkan Runa, sangat jelas digambarkan sebagai sosok kesayangan utama buat Mbak Monika. Bahkan, Runa diberikan bagian cerita khusus, saking disayangnya. Mungkin, Mbak Monik ingin ketika Runa besar nanti, Runa bisa paham bagaimana cerita masa kecilnya juga sebesar apa sayang Mbak Monika terhadap dirinya. Mungkin, ya.

Kedua sosok tersebut memberikan warna tersendiri yang menambah keasyikan membaca buku ini.

Pada buku ini, Mbak Monika Oktora benar-benar tidak pelit pengalaman. Selain pengalaman betapa sulitnya melewati tahap-tahap sebelum meluncur jauh ke Groningen, penulis buku juga selalu memberikan tips nyata di setiap bagian akhir cerita.

Misal, ketika mengurus beasiswa maupun visa. Setelah akhir cerita, Mbak Monika memberi catatan kecil bagaimana caranya supaya kita, pembaca, juga bisa mendapat beasiswa dan visa agar lebih terencana. Tentu, tips yang diberikan penulis, bisa mewanti-wanti kita supaya tidak terlalu banyak bersusah payah seperti kisah Mbak Monika. Bagi yang punya mimpi yang sama, hal ini bisa menjadi poin lebih buat bukunya.

Gaya bercerita dalam buku ini juga tidak membuat pembaca merasa bosan. Saat pertama kali membacanya, saya tidak sadar sudah berada pada bagian III saja, saking asyiknya. Ditambah lagi, Mbak Monika kadang kala memberikan beberapa cerita jenaka, yang menambah betah saat membaca. Benar-benar seperti ikut serta dalam perjalanan menuju Groningen lah, pokoknya.

Perjalanan tentang bagaimana peliknya mengurus berbagai macam hal sebelum dan sesudah kuliah S2 di Groningen, sangat bisa jadi inspirasi pembaca. Meski terkesan merendah diri, perjuangan Mbak Monika dalam menggapai mimpinya begitu tinggi. Apapun rintangan di depan, selalu dihadapi dengan semangat dan rasa syukur. Meskipun memang tak dipungkiri, perjuangan Mbak Monika juga sangat terbantu oleh beberapa orang di dekatnya. Tapi tetap saja, perjuangan beliau wajib jadi inspirasi bagi kita.

Bagian utama kedua, cerita mengeni kehidupan di Groningen juga disampaikan sedetail mungkin. Mulai dari budaya tatakrama, tentang kedinamisan orang-orang di sana (bahkan sampai harus membuat agenda), komunitas muslimnya, kuliner, hidup hemat ala Belanda, pendidikan anak, serta yang lainnya. Gambaran Groningen bisa kamu dapatkan di buku ini, sebanyak yang kamu mau.

Ssstt... Satu lagi yang saya suka. Mbak Monik, sering kali memberi sindiran halus mengenai sejarah masa lalu kita dengan negeri Belanda. Secantik apapun Belanda, sejarah tentang kelamnya perilaku negeri itu di masa lalu, beberapa kali diingatkan oleh penulis. Walaupun mungkin, ini cuma sekedar sekelumit istilah saja.

Minus (-)

Ada dua hal detail yang sedikit membuat saya terganggu dan cukup disayangkan. Yakni soal bahasa asing, dan ilustrasi gambar yang disajikan.

Soal bahasa asing,—bahasa Inggris—pada beberapa dialog atau kalimat, tidak ada terjemahan yang dapat membantu pembaca yang memang kurang memahami bahasa tersebut. Buat saya pribadi, yang meski nilai bahasa Inggris saya wajib remidi, hal ini tidaklah terlalu menyiksa diri. Namun untuk pembaca yang benar-benar belum bisa, tentu saja sangat mengganggu kenikmatan membaca. Mereka harus bekerja ekstra, mengambil kamus atau membuka Google Translate, supaya tahu bagaimana sebenarnya isi surel dari Universitas Groningen dan terjemahan yang lainnya. Meski memang, Mbak Monika selalu memberikan penjelasan singkat, baik secara tersirat maupun tersurat, tentang kalimat-kalimat asing tersebut.

Kemudian, menyoal ilustrasi gambar. Sebenarnya bagian ini benar-benar hanya kekurangan kecil saja. Ilustrasi gambar, mungkin akan lebih bagus jika punya warna. Berwarna dalam makna yang sesungguhnya, maupun tidak. Pilihan warna hitam putih agaknya kurang tepat buat diterapkan pada buku yang jelas-jelas menceritakan sebuah kota di negara maju, yang disebut-sebut indah nan lumayan ramah. Keindahan kota Groningen sedikit terganggu dengan gaya B&W sajaBagaimanapun alasannya, hal ini sedikit membuat kecewa saja. Sedikit, ya. Selebihnya, tidak terlalu bermasalah.

Begitulah kira-kira riviu buku pada kesempatan ini. Semoga pembaca tulisan ini, tidak puas dengan ulasan yang saya jabarkan di sini. Mohon maaf juga, apabila terdapat banyak kekurangan dalam menyampaikan. Silakan beli bukunya, dan rasakan sendiri pengalaman menjelajah Groningen melalui sebuah buku jurnal seorang ibu muda.

Pesan khusus buat Mbak Monika Oktora:

Mohon maaf jika ulasannya sangat terlambat. Awalnya, saya mau langsung mengulas buku ini sebulan setelah menerimanya. Namun, saya kepikiran untuk menjadwalkan ulasan ini terbit di hari yang spesial buat Mbak Monika Oktora (meski saya tidak yakin jika ulasan ini spesial buat Mbak. Hehe). Yah, rencana tinggal rencana, saya gagal menepatinya. Meski terlambat dalam berbagai hal, saya tetap masih ingin mengucapkan:

Selamat ulang tahun yang ke-33 buat Mbak Monika Oktora. Sehat selalu buat Mbak Monika dan keluarga kecil serta keluarga besarnya. Semoga cita-cita lain yang belum terwujud, bisa cepat-cepat terwujud. Teruslah menjadi ibu tangguh, dan jangan mudah pesimis lagi. Tetap aktif berbagi pengalaman yang pasti bisa memberikan manfaat bagi mimpi banyak orang.


Kalau boleh, doakan saya juga untuk bisa pergi menjelajahi dunia. Tidak perlu Groningen, ke Belitong untuk bertemu Andrea Hirata juga sudah cukup. Hehe, lagi.

Baiklah, saya tutup saja riviu buku ini. Sampai jumpa pada riviu buku yang pasti menarik buat dibaca lainnya. Doakan saja, saya punya uang buat membelinya. Hatur nuhun, terima kasih sudah membaca sampai akhir, ulasan ini.

Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

Lebih baru Lebih lama