Cerpen 'Dear Diary' | Kumpulan Cerpen Waktu #2

kumpulan cerpen

"Assalaamu 'alaikum... Bagaimana kabarmu?"

Sebuah kalimat pembuka masuk ke pesan facebook ku sore ini. Pesan dari lelaki paling kukagumi. Lelaki yang sebenarnya sederhana, namun memiliki karisma buat dicinta. Ialah rasa sayang yang tak perlu alasan mengapa harus dikenang. Lelaki paling pendiam namun memiliki banyak pengagum.

Lelaki itu masih belum selesai dengan kedatangannya yang mendadak, ia masih mengetik. Membius kedua jempolku untuk sejenak menunggu.

"Maaf, aku baru tahu tentang dirimu. Tapi aku bukan tak tahu siapa kamu, hanya saja, aku malas tahu soal ini. Perasaanmu, dulu, padaku."

Tubuhku menghangat membacanya. Darimana ia tahu soal ini? Sesaat aku malu. Cinta dan perasaan yang sengaja kupendam selama beberapa tahun ini, kini ia tahu. Entah siapa yang lancang membicarakan itu padanya, aku akan sangat berterima kasih. Aku memang sudah sangat lelah memendam ini.

"Bagaimana kakak bisa tahu?"

Aku tak cukup pandai memahat kata sepertinya. Hanya kalimat tanya itu saja. Dua kemungkinan menggerayangi perasaan, ia sangat marah atau ia tiba-tiba menerimaku. Ah, tidak, kemungkinan yang kedua terlampau jauh.

Aku juga tahu, ia akan selalu berusaha menjauhkan pandangan mataku. Ia tak mau aku mencintainya, aku tahu. Dari pandangannya.

"Tak penting. Tapi mengapa?"

Ia mempertanyakanku lagi. Sulit aku menjawabnya saat aku harus kembali mengingat itu. Mengapa ia tak mau bertanya pada diri sendiri?

"Masih ingatkah kamu dengan senyum pertamamu padaku? Aku yakin kamu lupa. Baru kamu lelaki yang mau menyambutku. Aku senang, mungkin itu jadi salah satu alasanku masih mau sekolah di sini. Sudahlah, lupakan saja hari itu."

Aku tiba-tiba tak cukup senang. Sungguh, rumit jadi perempuan pengagum rahasia. Seakan aku tak mampu dicintai. Sulit jadi layaknya perempuan lain.

Aku menutup akunku, membaringkan sejenak sore ini. Sayangnya lelaki itu tak cukup penurut, ia memaksaku mengharap kembali. Ia kini tahu, itu yang kini kutahu.

Kuambil sebuah buku catatan kecil lusuh di laci kamarku. Sudah sangat berdebu, "begitu lamakah aku mencoba lupa padanya?"

***

5 Januari 2012, Kamis

Entah mengapa ingin kututup saja masa lalu ini. Benar-benar harus kulupakan, cukup sampai malam ini. "Ah, tidak, Rasanya sulit sekali." Senin besok, aku akan kembali sekolah lagi. Sekolahku terlalu kecil untuk bisa menghindari pertempuan dengan kakak kelas bernama Cakra itu. Benar kata sahabatku, Mia, aku memang perempuan plinplan. Aku bisa mencintai banyak lelaki, mengharap mereka menyatakan rasa padaku, meski tak pernah terjadi.

9 Januari 2012, Senin

Semua yang kutuliskan Kamis kemarin memang benar, aku bertemu kembali dengan Cakra. Kau tahu Diari, tuhan tak sungkan mempertemukan kami begitu dekat. Tadi pagi, aku dan Mia menanam tanaman di pot bunga di halaman sekolah. Pak Budi menyuruh kami untuk mengambil tanah dulu, ia menunjuk tempat yang di sana sudah berdiri seorang Cakra. Rasa ragu dan takut berubah berani sebab terpaksa. Aku lebih takut disebut murid tidak punya rasa patuh, dibanding hanya sekedar menghampirinya.

Kami mulai sangat berdekatan. Cakra memandangku sejenak, ia tersenyum manis, padaku, untukku, Saja. Kini aku tahu mengapa aku sulit melupakan orang ini. Senyuman manismu terlalu menusuk perasaanku. Kamu menyiksa wanita yang bahkan tidak pernah kau acuhkan.

Aku berlari, sembari membayangkan senyum yang pasti membekas itu. Dalam lamunan, aku hanya berpikir apakah senyum itu hanya sebuah senyuman atau pertanda lebih? Terlalu manis jika senyum itu hanya sikap ramahnya saja. Aku yakin, dia juga menyukaiku. Kami hanya saling memendam perasaan.

14 januari, Sabtu

Cakra perlahan menghilang dari pandanganku. Ia lebih senang menyendiri di kelas, tanpa seorang teman. Dia jadi sangat pemurung. "Ada apa denganmu, Kak?"

Ingin sekali aku menelusuk sampai hati. Memberi perhatian, mencari-cari apa yang sedang ia tangiskan. Tapi bagaimana mungkin, aku hanya wanita biasa.

Lengkaplah sudah aku sebagai perempuan tak berdaya. Membuat bahagia lelaki yang kusukai sedang merasa sedih saja aku tak sanggup. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi miliknya jika aku tak peduli pula soal perasaanya.

***

"Ta, aku hanya ingin bilang, terima kasih sudah pernah memiliki perasaan padaku. Terlalu dini buatku saat itu untuk memiliki perasaan pada seseorang. Hidupku hanya untuk membahagiakan keluargaku dengan prestasiku. Hanya itu. Maaf bila aku pernah menyakiti hatimu. Sungguh aku tidak pernah peduli dengan perempuan saat itu. Tidak satupun."

Kalimat pesan itu cukup jadi alasan. Hari ini aku cukup bisa menghargai mengapa ia begitu tidak peduli dan bersikap dingin. Lalu,

"Bagaimana dengan sekarang, Kak?"

"Aku tidak pernah tahu." Singkatnya, dan aku hanya kuasa membacanya saja.

4 Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

  1. Hemm Cakra, cuek kayaknya. Endingnya malah digantungin lagi sama si Cakra

    BalasHapus
  2. sunggguh rumit sekali.. menjadi pengagum dalam diam, sudah ungkapkan sahaja #eaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak, mending diungkapkan daripada keluar jerawat.

      Hapus

Posting Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

Lebih baru Lebih lama