Bapak Sopir Baik Hati

singaparna
Saya lupa memotret angkot beliau, jadi untuk ilustrasi saya pakai yang ini saja.


21 Februari 2020,


Sebetulnya aku ingin menceritakan nasib sialku lagi hari ini. Tapi kuputuskan untuk menutupinya karena ada yang lebih layak untuk dibicarakan. Ya, kau sudah tahu dari judulnya. Aku ingin menceritakan seorang bapak sopir angkutan umum atau angkot.


Bermula dari cerita menyedihkan, aku justru mendapat banyak sekali pelajaran dari perjalanan. Bukan dari bapak atau ibu dosen di kampus, melainkan dari seorang sopir angkot jurusan Tasikmalaya-Singaparna. Beliau sebenarnya satu dari beberapa supir yang pernah kutemui dan memiliki kebaikan hati. Jadi kuharap beliau bisa mewakili.

Sejak aku memberhentikan angkotnya dari pasar Cikurubuk, bapak ini mengalami sepi penumpang. Hanya benar-benar aku saja yang duduk di kursi paling depan, persis dekat beliau. Beberapa kali bapak ini membunyikan klakson pada setiap orang di sisi jalan, berharap mereka menaiki jasa angkutannya. Sampai di dekat Dishub Tasikmalaya, tak ada satu pun penumpang naik. Benar-benar masih hanya aku. Sejujurnya aku kasihan, tapi mau bagaimana lagi, rezeki bukan aku yang mengatur.

Berusaha menghilangkan rasa sedih akan nasibnya, beliau mengajakku mengobrol. Mulai dari soal kerja di mana yang langsung kujawab aku masih kuliah, sampai soal rezeki yang tidak akan tertukar. Aku yang sibuk mendengarkan musik, sedikit mengecilkan volume, kulakukan agar bisa mendengar dan menghargai ajakan beliau. Walaupun aku hanya menjawab dengan senyum dan "Iya" saja. Bukan malas, tapi aku masih sulit mengobrol dengan orang asing.

Sejatinya ia bisa sesekali mengetem agak lama, tapi ia bilang, "pameng Jumatan" atau kalau diterjemahkan "tanggung mau jumatan." Cerminan bapak ini baik hati saja sudah tergambar dengan ucapan itu.

Kemudian—entah sebuah keajaiban ucapan sederhana tadi—penumpang mulai berdatangan. Aku yang sedari tadi cemas, sedikit melega. Meski terlambat, ia kembali tak lupa bersyukur pada Tuhannya, "alhamdu lillaah gening a, saaliteunmah aya jalmi teh." Diterjemahkan, "alhamdu lillaah ada juga sedikit-sedikit orang (yang naik angkot)."

Tak habis lagi kebaikan beliau, dan jadi puncak pelajaran hidup bagi saya, seorang penumpang tunadaksa dan agak terlihat cacat mental, mencoba memberhentikan angkotnya. Tak banyak mikir, bapak ini dengan senang hati menyuruhnya naik.

"Karunya," katanya. Diterjemahkan, "kasihan." Senang rasanya mendapat momen langka seperti ini. Kalau aku bertemu orang semacam itu, aku masih agak tidak mau menerima. Bukan jijik atau apa, tapi aku takut salah memperlakukan orang semacam itu. Yang kutahu mereka itu punya mental yang lebih sensitif.

Saya salut dengan bapak supir itu, ia cukup telaten menghadapi pemuda spesial itu. Beberapa kali pemuda itu meracau tak jelas. Tapi Pak sopir menjawabnya dengan senyuman di rautnya. Pemuda itu terlihat nyaman kurasa.

Sampailah aku di terminal Singaparna. Aku tidak berhenti di sana, hanya beberapa penumpang saja, termasuk pemuda yang kuceritakan tadi. Ia turun tanpa memberi uang sepeser pun, hanya bilang, "Pak nuhun," lalu turun. Pak sopir hanya menjawab, "iya" dan kembali mengemudi. Di sepanjang perjalanan tak sedikitpun ia mau menceritakan kebaikan hatinya. Seolah ikhlas, ya ikhlas saja.

Aku kemudian sampai di persimpangan jalan dekat taman. Bermaksud untuk salat Jumat di masjid raya Singaparna (maaf sedikit membicarakan ibadah, kukira ini umum, mungkin tidak terlalu mengganggu). Kembali lagi pada kebaikan beliau, saya memberikan uang nominal 10rb. Kukira seperti biasanya, mendapat kembalian 5rb. Tapi tidak, ia memberi kembalian 6rb. Aku sejatinya mau bicara soal itu, tapi aku benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapi situasi itu. Maaf, Pak.

Aku hanya mau berharap semoga orang-orang sebaik dan sehebat bapak sopir ini mendapat umur panjang dan rezeki yang cukup. Aamiin.

Tulisan ini pernah dipublikasikan di blog https://diarienier.blogspot.com. Saya putuskan, menu Catatan Hari Ini dipublikasikan di Ruang eNIeR saja. Sebab tidak terlalu pribadi.

Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

Lebih baru Lebih lama