Kenapa Sinetron Indosiar Digemari?

Sinetron Indosiar
liputan6.com

Beberapa tahun ke belakang, Indosiar sepertinya sudah paham cara meramu acara mereka agar digemari pemirsa. Salah satunya ya sinetron. Dengan sangat percaya diri, Indosiar menayangkan lebih dari 5 judul sinetron. Mulai dari subuh sampai malam hari, hanya diselangi beberapa acara gosip dan berita. Lantas, kenapa sinetron Indosiar bisa sepercaya diri itu? Dan mengapa bisa sangat digemari?

Dari hasil pengamatan kecil saya pribadi, sinetron Indosiar memiliki beberapa kelebihan dibanding sinetron lain. Salah satunya soal kedekatan cerita dengan penontonnya. Ya, sinetron Indosiar bisa dijadikan gambaran hidup paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Penonton seolah-olah ikut andil di dalamnya, ikut geram dan merasakannya.

Anak durhaka yang setiap hari mengemis pada ibunya yang sengsara, kisah azab yang sebetulnya berlebihan (untung saja KPI peka), hingga kisah KDRT pasangan suami istri. Semua dekat dengan masyarakat, relate meski kadang membosankan.

Penggemarnya yang saya yakin kebanyakan ibu-ibu, memiliki rasa empati dan kepo yang tinggi. Ketika si tokoh protagonis ditindas, otomatis kekuatan empati ibu-ibu muncul. Ikut kesal dan merasa ingin membantunya.

Meski pada setiap cerita kebanyakan sangat templat atau begitu-begitu saja, tapi sinetron Indosiar dapat memancing emosi penonton. Padahal setiap hari ceritanya cuma sekedar anak durhaka, suami istri bertengkar dan selingkuh, serta kepicikan antagonisnya yang terus menerus diulang. Tidak ada hal baru, hanya soal perebutan harta, tahta dan asmara. Tapi sekali lagi, sebab ceritanya paling dekat dengan masyarakat, maka sangat mudah untuk digemari. Maka Indosiar tak rugi jika stasiunnya dipenuhi sinetron. Pastinya, kembali lagi, rating-lah yang menentukan.

Satu hal lagi, sinetron Indosiar dapat dinikmati sampai habis dalam sekali tonton. Alih-alih membuat penasaran penonton di episode berikutnya, Indosiar lebih menyajikan sinetron satu kali tamat. Tak disangka hal tersebut jadi salah satu kelebihannya.

Bandingkan saja dengan sinetron di stasiun televisi lain. Seperti Tukang Ojek Pengkolan, Dari Jendela SMP, dan sinetron striping lainnya. Cerita di awal episode bisa saja disukai, tapi lama kelamaan penonton akan merasa bosan. Apalagi cerita lanjutannya hanya menunjukkan dialog sehari-hari, keakraban masyarakat biasa, tanpa ada bumbu enak yang berhasil memancing emosi jiwa.

Sinetron Indosiar adalah kita dan segala rupa keinginan, segala rupa unek-unek, serta segala rupa ambisi jahatnya.

Meski naskah dan aktor di beberapa ceritanya masih sangat cupu jika dibandingkan sinetron Korea Selatan misalnya, tapi semua itu masih bisa dimaafkan, setidaknya untuk para ibu-ibu yang siap duduk mengutuk para antagonisnya. Lagipula sinetron Indosiar masih memiliki cukup amanat hidup yang bisa diambil. Tidak terlalu buruk, masih cukup bisa dinikmati.

Saya adalah salah satu penggemarnya, kalau pembaca ingin tahu.

Komentar

Kamu punya tanggapan? Kirim saja melalui komentar di bawah ini, ya!
*Dilarang spam, mencantumkan link, dan melanggar aturan lainnya.

Lebih baru Lebih lama